Cerita fiksi

 Jam Saku dan Tiga Detik Waktu



Di sebuah kota kecil yang dikelilingi kabut abadi, tinggal seorang tukang jam tua bernama Pak Lodra. Toko kecilnya penuh dengan dentingan dan derik mesin waktu, tapi ada satu jam yang tak pernah dijual—sebuah jam saku perak yang selalu ia simpan di sakunya.


Suatu hari, seorang anak lelaki bernama Reno masuk ke toko itu. Ia tertarik dengan suara jam-jam tua yang seperti berbisik. "Apa semua jam di sini masih bisa berjalan, Pak?" tanyanya polos.


Pak Lodra tersenyum, menunjukkan deretan gigi tuanya yang berantakan. “Semua jam bisa berjalan, tapi tidak semua waktu bisa kembali,” jawabnya misterius.


Reno melihat jam saku itu mengintip dari saku Pak Lodra. "Jam itu... kenapa disimpan, bukan dijual?"


Pak Lodra terdiam lama, lalu berkata pelan, "Jam ini bisa memberimu tiga detik untuk mengulang waktu. Tapi hanya sekali."


Reno tertawa kecil, mengira itu sekadar dongeng. Tapi ketika ia kehilangan adiknya karena tersesat di hutan dua hari kemudian, ia kembali ke toko itu dengan air mata di mata. “Aku mau pinjam jam itu... tolong.”


Pak Lodra memandangnya dalam-dalam, lalu menyerahkan jam itu tanpa kata. Reno memutar kenop kecil di sisi jam, dan semuanya menjadi putih.


Ia terbangun kembali di pagi hari, tiga detik sebelum adiknya keluar rumah. Kali ini, ia menarik tangan adiknya dan berkata, “Jangan pergi dulu, tunggu aku.” Dunia bergerak seperti biasa setelahnya, tapi Reno tahu sesuatu telah berubah.


Ketika ia kembali ke toko untuk mengembalikan jam itu, toko Pak Lodra sudah kosong. Hanya secarik kertas tertempel di pintu: “Waktu tidak bisa dibeli, hanya dihargai.”

Comments

Popular Posts